Animasi pendek “The House We Lived” adalah projek Tugas Akhir yang bertujuan untuk menambah wawasan dan juga menceritakan tentang seseorang yang menderita survivor’s guilt, dikarenakan masih minimnya kesadaran masyarakat akan survivior’s guilt dan belum tahu dampak yang akan dirasakan oleh penderita dan lingkungan sekitarnya jika tidak ditangani dengan tepat. Bentuk karya diproduksi ialah animasi fim pendek berkisara 5 sampai 6 menit yang akan menceritakan Sarah, seorang wanita yang mempunyai trauma dan menderita survivor’s guilt, ingin sembuh dari penderitaannya, namun perasaan bersalah tersebut menghantuinya ketika ia kembali ke rumah lamanya. Film animasi pendek ini memiliki tiga karakter, yaitu Sarah sebagai karakter utama, Safa sebagai karakter pendukung, dan Monster sebagai karakter antagonis.

Sarah merupakan karakter utama dari projek animasi ini, ia merupakan penderita survivor’s guilt yang sudah parah akibat trauma yang dialaminya pada kejadian 10 tahun lalu yang merenggut jiwa saudara kembarnya, hingga dapat mengalami halusinasi jika ada sesuatu yang men­trigger-nya. Sarah memiliki kepribadian yang umum dimiliki oleh penderita survivor’s guilt lainnya, yaitu depresi, rasa takut dan kecemasan yang berlebihan dan juga antisosial.

Sarah diselimuti oleh warna-warna dingin atau cool colors pada desainnya, hal ini dapat menggambarkan depresinya dan kesedihan yang ia tutup dalam dirinya tentang traumanya. Warna yang didominasi oleh Sarah adalah indigo, yang mempunyai arti depresi dan ketakutan untuk melambangkan kepribadiannya. Sarah juga memakai pakaian lengan dan celana Panjang untuk menunjukkan bahwa ia merupakan orang yang tertutup.

Postur tubuh Sarah yang membungkuk juga menunjukkan bahwa ia memiliki anxiety yang mendalam, kepercayaan diri yang rendah dan juga mudah ketakutan. Ia sering menggenggam tali tas yang dia kenakan sebagai moral support untuk dirinya sendiri.

Sarah memiliki bentuk mata besar dan tidak berbinar, menunjukkan bahwa ia memiliki perasaan yang lebih peka, memiliki konflik atau tekanan yang besar dalam hidupnya. Sarah juga memiliki mata dengan tiga bagian putih dengan manik yang menghadap ke atas, hal ini menunjukkan bahwa ia memiliki pemikiran skeptis terhadap hidup yang ia jalaninnya, sering bertindak impulsif yang dikarenakan oleh kurang stabilnya mental dan juga mudah larut dalam emosi yang dialaminya. Mata Sarah juga memiliki kantung mata yang menandakan bahwa ia kurang tidur akibat mimpi buruk yang selalu ia alami.

Saat masih kecil, Sarah juga memiliki tone warna yang serupa, yaitu warna indigo. Namun terdapat sedikit perbedaan dalam raut wajah Sarah, penulis membuat Sarah ekcil terkesan lebih polos dibandingkan dengan wajahnya saat dewasa, hal ini dikarenakan ia masih memiliki kembarannya.

Safa merupakan karakter pendukung pada projek animasi ini, dan saudara kembar Sarah yang meninggal akibat tragedy yang menimpanya pada 10 tahun yan lalu. Ia juga merupakan penyebab mengapa Sarah menderita survivor’s guilt, karena kematiannya sangat membekas pada Sarah. Warna yang dimiliki Safa cenderung memiliki warna warm, yang membuat dirinya terlihat lebih ceria, ramah, dan baik. Warna jingga yang memiliki arti optimis, extrovert, dan gampang bergaul merupakan kepribadian Safa yang sangat terbalik dengan kepribadian Sarah. Safa memiliki kepribadian yang sangat berbeda dengan Sarah, Safa cenderung optimis, dan ceria. Ia sangat impulsif dibandingkan dengan Sarah yang bergerak dengan hati-hati.

Bentuk mata yang dimiliki Safa yaitu merupakan bentuk mata besar yang mengartikan bahwa ia memiliki kepribadian yang aktif dan terbuka, namun juga ceroboh. Safa juga memiliki ekor mata yang terkulai ke bawah, yang menunjukkan bahwa ia orang yang baik hati dan ramah. Safa juga sangat menyayangi dan selalu menjaga Sarah di kala ia kesulitan.

Karakter monster ini memiliki bentuk yang menyerupai tikus, hal ini dikarenakan bagaimana Sarah melihat ayahnya. Monster ini merupakan salah satu dari halusinasi Sarah terhadap ayahnya yang merupakan seorang pejabat tinggi, namun ayahnya ini merupakan koruptor, maka dari itu monster ini berbentuk tikus. Beberapa alasan mengapa koruptor dilambangkan sebagai tikus, seperti yang dilansir pada aktaindonesia adalah sebagai berikut.

  1. Tikus suka mencuri, koruptor mencuri uang rakyat,
  2. Tikus membawa penyakit, koruptor membawa penyakit yang merusak tatanan bangsa,
  3. Tikus merupakan binatang yang pintar, dan banyak koruptor yang pintar bahkan berpendidikan tinggi.

Karakter Monster ini juga merupakan salah satu karakter yang licik, karena selain menjadi jelmaan ayah Sarah yang merupakan seorang koruptor, background ayahnya juga mempunyai rahasia besar, yaitu menggunakan sihir atau ilmu yang ia dapat dari orang pintar agar jabatannya tidak turun dalam dunia politik. Ia merupakan orang yang haus jabatan dan rakus akan kekayaan, maka dari itu ia mempunyai ruangan tersendiri yang menyimpan barang-barang berharga miliknya yang tidak boleh dimasuki oleh siapapun.

Karakter monster ini berwarna hitam yang melambangkan bahwa ia memiliki kuasa dan kontrol, serta membawa aura negatif dalam dirinya. Warna hitam juga memberi kesan intimidasi, dan dapat menciptakan ketakutan. Line yang digunakan merupakan warna kuning, yang memiliki arti ego yang dimiliki sang ayah. Matanya yang dibuat sangat bulat dan memiliki spiral di dalamnya melambangkan bahwa dalam pikiran Sarah, ayahnya adalah orang gila, gila harta dan lainnya.

 

Demikian sekilas pembahasan karakter desain dalam animasi film pendek “The House We Lived”. Semoga dapat bermanfaat atau menginspirasi anda. Terima kasih.

 

Penulis.

Salsabila Istifaria Allyssa.