Untuk membuat gerakan monster raksasa terasa lebih berat dan hidup, animator menambahkan secondary motion pada bagian-bagian tubuh tertentu seperti gelambir kulit, ekor, tanduk, dan lidah. Gerakan sekunder ini mengikuti hukum inersia yang memperkuat impresi massa dan ukuran karakter.

Setiap gerakan langkah kaki monster memicu reaksi simulasi fat jiggle dan pergerakan jaringan kulit secara otomatis menggunakan physics-based solvers. Pendekatan ini menghemat waktu animator dalam melakukan keyframing manual pada detail-detail kecil.

Teknik ini menjadi contoh nyata bagaimana penggabungan manual animation dan procedural simulation dapat menghasilkan gerakan creature yang terasa natural dan solid.