Letter for Mother menceritakan tentang perjuangan seorang anak SD, Jaya, yang tinggal hanya bersama neneknya untuk mendapatkan kembali surat yang ditulisnya untuk hari ibu di sebuah desa terpelosok. Film pendek ini berdurasi sekitar 4-5 menit dengan tema kekeluargaan, penindasan, dan perjuangan anak sekolah.

Pembuatan film ini bertujuan agar penonton dapat memahami perspektif korban penindasan yang sering terjadi di Indonesia dan lebih menghargai orang-orang terlepas latar belakang dan penampilan fisik seseorang. Film ini divisualisasikan dengan metode pembuatan animasi dua dimensi agar terasa lebih ringan dan humoris, sehingga akan sangat mudah untuk dipahami oleh anak-anak dan orang awam.

Dalam pembahasan mengenai film animasi pendek ini, penulis akan membahas seputar desain karakter dan latar tempat yang telah dibuat kurang lebih selama enam bulan pada tahun 2022.

Character Design

 

Dalam film animasi pendek Letter for Mother, penulis membuat 6 karakter yang terdiri dari karakter protagonist(Jaya), antagonis (Gilang), sidekick protagonist (Nenek Kemala), sidekick antagonis (Arya dan Jaki), serta karakter pendukung lainya seperti Ibu Asri dan teman-teman sekelas Jaya.

Jaya Aditya Surya (Jaya) merupakan seorang anak kelas 4 SD di SD Harapan Nusantara. Ia merupakan anak yatim piatu yang tinggal bersama neneknya (Nenek Kemala), di Desa Jomblang. Ia merupakan anak yang pendiam dan pemalu, meski begitu, ia memiliki semangat berjuang yang besar dan pantang menyerah. Dalam cerita, Jaya digambarkan menggunakan seragam SD sederhana yang tampak sempit dan sudang menguning dibandingkan seragam teman-temanya yang tampak lebih bagus.

Di sekolahnya, ia mengalami perundungan yang dilakukan oleh teman sekelasnya yaitu Geng Halilintar yang diketuai oleh Gilang Agung (Gilang atau Bos Gil). Gilang dan teman-temanya, Arya dan Jaki, merebut surat yang ditulis Jaya ketika Jaya sedang membuat PR untuk membuat surat dihari ibu. Gilang digambarkan sebagai karakter yang arogan karena ia sangat percaya diri dengan tubuhnya yang besar dans statusnya sebagai anak kepala sekolah.

Environment Design

Latar tempat animasi pendek Letter for Mother bertempat di sebuah desa terpencil yang berada di daratan tinggi di benua Asia, Indonesia. Di dalam film tidak disebutkan tempat pastinya, karena pada umumnya latar tempat animasi ini merupakan daerah terpencil yang masih sangat sederhana. Dengan pendekatan visual menyerupai salah satu daerah di Cianjur, Desa Tisuk, pemandangan desa akan terlihat dikelilingi oleh persawahan yang dikelilingi oleh hutan dan bukit-bukit tinggi.

Penulis menggunakan referensi daerah Cianjur, Jawa Barat karena kesesuaian kondisi geografis yang ingin divisualisasikan dan pengalaman kehidupan masyarakat Jawa Barat yang dimiliki penulis untuk pembuatan film animasi Letter for Mother. Rendahnya tingkat pendidikan di desa sering kali diabaikan oleh masyarakat, sehingga anak-anak sering kali bertumbuh tanpa arah yang jelas dari sisi kognitif maupun non kognitif. Hal ini yang menjadi bahan pertimbangan penulis untuk merancang latar belakang film yang berupa pedesaan terpencil.

Hutan Seram merupakan sebuah hutan yang membatasi Desa Jomblang dengan desa-desa lainya. Disebut sebagai Hutan Seram karena penampakan hutan tersebut yang cukup sendu dan sangat gelap karena ditumbuhi pohon-pohon yang lebat. Bentuk-bentuk dari batang pohon juga sangat beragam dan tidak biasa, sehingga penduduk menyebutnya sebagai Hutan Seram.

Nenek Kemala dan Jaya tinggal di pinggir Desa Jomblang di dalam sebuah rumah tua yang terbuat dari anyaman bambu dan tripleks. Mereka hidup sangat sederhana dengan mengandalkan profesi Nenek Kemala sebagai pembuat jajanan pasar tradisiona dan gorengan. Perabotan yang mereka miliki pun sudah sangat tua, sehingga suasana di dalam rumahnya terasa sedikit kelam. Karena mereka menganut agama Konghucu, mereka memiliki sebuah altar yang berada di dekat pintu masuk. Kebanyakan tata letak dan perabot yang mereka letakkan di rumah mengacu pada kepercayaan orang Tionghua untuk membawa keberuntungan dan pantanganya.

Kesimpulan

Penulis sadar akan pentingnya pemersatuan persepsi dalam sebuah film. Dalam penyampaian pesan, penulis pun harus memahami visualisasi karakter dan lingkungan yang dibuat agar dapat dipahami oleh penonton. Agar masyarakat dapat menerima pesan dengan baik, penting adanya penyesuaian degan kebudayaan, perilaku sehari-hari, struktur bangunan, keadaan lingkungan, dan nilai yang ingin disampaikan.

Pembuatan karakter harus disesuaikan dengan target usia yang ingin dicapai. Jika terlalu sederhana akan terasa membosankan, sebaliknya, jika terlalu detail, maka akan memusingkan bagi target penonton. Penyesuaian warna dan pencahayaan juga penting dalam visualisasi karya. Pemilihan warna yang kurang tepat akan menimbulkan kejanggalan dan kebingungan. Sementara pencahayaan akan sangat berpengaruh pada moodatau situasi yang diinginkan dan juga kesatuan scene itu sendiri, dari segi karakter dan environment.

Akhir kata, penulis berharap dengan artikel tugas akhir ini bisa dijadikan inspirasi dan pembelajaran bagi banyak orang, terkhususnya yang menggeluti bidang serupa.

Penulis.
Ellen Andrea Berliandra