ev1

Batik sudah lama dikenal sebagai warisan budaya Nusantara. Selama bertahun–tahun dan berabad–abad, dunia mengenal batik berasal dari Indonesia. Namun secara umum, masyarakat Indonesia belum mengetahui benar, dan kurang mencintai warisan luhur ini.

Batik merupakan hasil seni budaya yang memiliki keindahan visual yang mengandung sebuah makna filosofis pada setiap corak dan motifnya. Baik dari segi corak, motif, maupun warnanya, batik dapat mengatakan kepada kita darimana batik tersebut berasal. Filosofi dalam pola-pola batik mengandung harapan–harapan serta doa dari pembuatnya, hal tersebut yang menyebabkan batik selalu ada pada tiap upacara–upacara masyarakat Jawa, dari saat dilahirkan hingga maut menjemput. Motif batik berkembang sejalan dengan waktu, tempat, peristiwa yang menyertai, serta perkembangan kebutuhan masyarakat. Sering kali lokasi memberi pengaruh yang cukup besar pada motif batik. “The Enchanting Value” merupakan tayangan edukasi bagi anak remaja berusia 13-15 tahun yang menginformasikan makna-makna pada motif batik pedalaman, dalam film ini khususnya motif Parang Rusak, Kawung, Sidomukti, Slobog, dan Truntum, serta pemakaian motif batik tersebut pada kehidupan sehari-hari.

ev2

Mama Titin dan Titin adalah karakter dalam film animasi edukasi “The Enchanting Value” ini, Mama Titin adalah seorang Ibu yang lembut dan penuh kesabaran, Mama Titin gemar mengoleksi batik dan sangat mencintai batik, sedangkan Titin adalah anak yang ceria dengan rasa penasaran yang tinggi. Cerita film animasi edukasi ini dimulai ketika Titin akan pergi ke pesta pernikahan saudaranya menggunakan sebuah gaun bermotif batik dan menunjukkan gaun itu kepada ibunya, namun ternyata motif tersebut tak pantas dikenakan ke pesta pernikahan, dan dari situ Mama Titin mulai menjelaskan tiap makna dari motif batik kepada Titin.

ev3

Tujuan penulis dalam pengerjaan film animasi edukasi “The Enchanting Value” ini adalah supaya masyarakat dapat lebih mengenal batik tidak hanya dari sisi teknis produksinya, namun juga dari segi budayanya, yaitu makna filosofis yang terkandung dalam motif batik itu sendiri dan masyarakat dapat mengetahui penggunaannya secara pantas pada kehidupan mereka sehari-hari. Diharapkan masyarakat juga dapat lebih mencintai batik, dan mau untuk melestarikan batik, karena batik merupakan warisan bangsa Indonesia yang harus dijaga dan dirawat.

ev4

Batik memang memiliki beragam motif, masing–masing motif memiliki keindahan dan keanggunannya, namun dibalik keindahan dan keanggunannya tersebut, batik memiliki makna filosofis tersendiri pada setiap motifnya, dan tidak semua batik dapat digunakan pada acara–acara tertentu, seperti Parang Rusak yang tidak boleh dikenakan ke acara pernikahan.

Pengetahuan mengenai batik memang sudah seharusnya diberikan sejak dini, karena batik merupakan salah satu jati diri bangsa Indonesia, serta salah satu harta kekayaan bangsa Indonesia yang harus dijaga dan dilestarikan, bukan saja mempelajari dari segi teknisnya (seperti cara pembuatan dan industrinya) namun juga dari sisi kebudayaannya, yaitu memperdalam makna apa yang berada dibalik motif tersebut, agar tidak terjadi kesalahan penggunaan dalam kehidupan sehari–hari.

Hasil akhir yang penulis peroleh memang masih jauh dari sempurna, setiap hasil akhir pasti menempuh proses yang panjang, namun diharapkan, film “The Enchanting Value” dapat memberikan informasi positif dan pengetahuan kepada masyarakat yang membutuhkan, khususnya para orang tua yang ingin mengajarkan batik kepada anak-anaknya sejak dini.

 

Anita Veronica. 2014